Nawasenanews.com-Pematangsiantar || Kota Pematangsiantar pernah berpredikat sebagai Kota pendidikan, ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi warganya.
Ketika lembaga pendidikan yang ada di Kota Siantar bersama sama bekerja keras menggembalikan predikat tersebut banyak tantangan yang menghambatnya.
Hal ini dikatakan pengamat pendidikan Agus M. Siahaan S.Kom, M.Kom, Senin (22/07/2024) terkait tantangan yang menghambat mengembalikan predikat Pematangsiantar sebagai Kota Pendidikan yang salah satunya adalah keberadaan Tempat Hiburan Malam (THM) Evo Star yang berdiri di dekat Kampus Advent.

Agus menyatakan, baiknya Pemerintah mendukung perjuangan akademisi untuk mengembalikan predikat Pematangsiantar sebagai Kota Pendidikan, bukan membiarkannya begitu saja ketika ada kendala yang menghambatnya.
Sebagaimana diketahui, dari awal rencana beroperasinya Tempat Hiburan Malam (THM) Evo Star mendapat penolakan dari Kampus Advent. Pimpinan Yayasan Pendidikan Advent0 Dr. Sedia Simbolon MAN
Belum lama ini S. Simbolon menyampaikan, pihaknya secara resmi sudah menyurati Polri, Polda Sumut, Gubernur, Pemko Pematangsiantar dan memasang spanduk penolakan beroperasinya THM Evo Star di lingkungan kampus.
“secara resmi surat penolakan sudah dilayangkan ke Polri, Polda Sumut, Gubernur, Pemko Pematangsiantar dan spanduk penolakan sampai saat ini terpampang di depan Kampus,” terang S. Simbolon.
Lebih lanjut Dr. Sedia Simbolon MAN yang juga sebagai Ketua Lembaga SLA-PTASN menyatakan, saat ini Lembaga Pendidikan Advent mendidik 700 orang anak didik yang datang dari berbagai Provinsi.
” Pendidik merasa bertanggungjawab untuk menjaga karakter anak bangsa yang sudah dididik selama ini,” tutur S. Simbolon.
Di tempat terpisah saat awak media mengonfirmasi salah seorang warga setempat berinisial (SF) yang memiliki usaha di sekitar THM menyatakan, jauh sebelumnya mayoritas masyarakat di daerah sekitar menolak dibukanya THM karena berdampak negatif yang cukup besar bagi masyarakat sekitar terutama bagi pelajar dan mahasiswa.
“jauh sebelumnya mayoritas masyarakat di daerah sekitar menolak dibukanya THM,” tutur SF.
SF yang juga pemuka agama menerangkan, THM selalu identik dengan miras, narkoba dan portitusi.
” Hal ini sangat bertentangan dengan kultur hidup adat istiadat Kota Pematangsiantar, “tutup SF. (G.G)









