Sejarah Perjuangan Dibalik Anugerah Gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih Garingging

- Penulis

Rabu, 19 November 2025 - 21:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nawasenanews.com, Simalungun – Sebuah momen bersejarah terjadi di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (10/10/2025). Pada hari itu, Tuan Rondahaim Saragih Garingging secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Penganugerahan ini menjadi puncak pengakuan negara atas jasa-jasa besar Tuan Rondahaim dalam perjuangan bersenjata demi kemerdekaan dan persatuan bangsa.

Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih, turut hadir dalam acara tersebut untuk menyaksikan langsung momen bersejarah ini. Gelar Pahlawan Nasional diserahkan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada ahli waris Tuan Rondahaim, yaitu Ihutan Bolon Saragih Garingging Boru Pakon Panagolan Prof. Bungaran Saragih Garingging dan Dr. J.R. Saragih Garingging.

Selain Tuan Rondahaim Saragih Garingging, Presiden Prabowo Subianto juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh lainnya berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025.

Penganugerahan ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi negara atas jasa-jasa luar biasa para tokoh yang telah berjuang dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menciptakan suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Di antara sepuluh tokoh yang menerima gelar Pahlawan Nasional, terdapat dua mantan presiden Indonesia, yaitu Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Berikut adalah daftar lengkap sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional:

1. Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Tokoh Jawa Timur Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam)
2. Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto (Tokoh Jawa Tengah Bidang Perjuangan Bersenjata dan Politik)
3. Almarhumah Marsinah (Tokoh Jawa Timur Bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan)
4. Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Tokoh Jawa Barat Bidang Perjuangan Hukum dan Politik)
5. Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (Tokoh Sumatera Barat Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)
6. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Tokoh Jawa Tengah Bidang Perjuangan Bersenjata)
7. Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin (Tokoh NTB Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi)
8. Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil (Tokoh Jawa Timur Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)
9. Almarhum Tuan Rondahaim Saragih (Tokoh Sumatera Utara Bidang Perjuangan Bersenjata)
10. Almarhum Zainal Abidin Syah (Tokoh Maluku Utara Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi)

Dalam suasana yang penuh haru dan kebanggaan, para ahli waris hadir mewakili para tokoh untuk menerima gelar dan tanda penghormatan dari Presiden. Kepala Negara menyerahkan secara langsung piagam dan tanda kehormatan negara kepada masing-masing ahli waris sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasa besar yang telah diberikan para pahlawan bagi bangsa dan negara.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting negara, antara lain Wapres Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR Ahmad Muzani, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dan Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamuddin.

Hadir pula jajaran menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Mensos Saifullah Yusuf, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menag Nazaruddin Umar, Kepala BIN Herindra, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih Garingging ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus meneladani semangat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam membangun bangsa dan negara.

Riwayat Hidup Tuan Rondahaim Saragih Garingging

Rondahaim Saragih Garingging lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, Sinondang, Pamatang Raya, ibu kota Partuanan Raya. Ayahnya, Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog, adalah penguasa Partuanan Raya. Ibunya, Puang Ramonta boru Purba Dasuha, adalah putri dari Guru Raya. Oleh karena Puang Ramonta hanyalah selir dari Tuan Jimmahadim, kehidupan Rondahaim dan ibunya serba kekurangan.

Pada masa kecilnya, Rondahaim telah diperkenalkan oleh keempat pamannya, yakni Guru Murjama, Guru Onding, Guru Nuan, dan Guru Juhang, kepada Raja Padang Tengku Muhammad Nurdin. Rondahaim belajar bahasa Melayu dan ilmu pemerintahan selama tinggal di Kerajaan Padang.

Pada tahun 1840, saat Rondahaim berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kekuasaan ayahnya kemudian digantikan oleh pamannya, Tuan Murmahata Saragih Garingging gelar Tuan Sinondang, sebagai pemangku raja. Tuan Murmahata juga menikahi ibu Rondahaim.

Baca Juga:  Kapolres Simalungun Pimpin Gelar Pasukan Dan Lat Pra Ops Patuh Toba - 2023; Patuh dan Tertib Lalu Lintas Cermin Moralitas Bangsa

Perjuangan Melawan Belanda

Selama berkuasa, Tuan Rondahaim yang diberi gelar Tuan Raya XIV aktif memperluas wilayah kekuasaannya sekaligus menentang aneksasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Sumatera Timur. Tuan Rondahaim mempersatukan raja-raja di Simalungun untuk melawan Pemerintah Kolonial yang saat itu melakukan ekspansi perkebunan.

Pada tahun 1860-an, Belanda sedang melakukan ekspansi perkebunan di daerah Sumatera Timur dengan membuka hutan belantara lalu mengubahnya menjadi perkebunan tembakau, karet, kakao, dan kopi. Seiring ekspansi perkebunan ini, intervensi birokrasi kekuasaan kolonial pun semakin meningkat di daerah Sumatera Timur. Belanda melakukan tekanan politik kepada kekuasaan-kekuasaan tradisional. Bahkan, apabila ingin melakukan sirkulasi kekuasaan politik, para raja lokal harus mendapat persetujuan Belanda, baik melalui residen maupun asisten residen. Raja-raja di Sumatera Timur pun menjadi bagian dalam birokrasi kolonial. Perusahaan perkebunan Belanda memberikan semacam konsesi yang dibayar kepada kekuasaan lokal. Bayaran itu menjadi sumber pendapatan para raja lokal.

Di tengah ekspansi ini, Tuan Rondahaim dengan tegas menolak tunduk pada Belanda. Ia justru mempersatukan raja-raja lokal dan panglima perang di Simalungun yang waktu itu terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Raja-raja yang berhasil dipersatukan antara lain Raja Siantar, Bandar, Sidamanik, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Silimakuta, dan Dolok Silau.

Saat itu, Tuan Rondahaim bergelar Raja Goraha, semacam panglima perang kerajaan. Pada tahun 1880-an, Tuan Rondahaim mengadakan pertemuan dengan para raja Simalungun untuk memikirkan ancaman Hindia Belanda yang hendak menguasai Simalungun. Para raja di Simalungun lalu bersepakat untuk menentang Belanda.

Tuan Rondahaim lalu menggalang kekuatan rakyat yang siap bertempur sekaligus menjalin jejaring politik di Semenanjung Melayu. Ia juga membangun koneksi dengan pialang senjata modern di Penang. Senjata modern dibarter dengan lada, komoditas laris dari pantai timur Sumatera.

Tuan Rondahaim membentuk pasukan tempur yang dipimpin Panglima Besar Torangin Damanik dari Kerajaan Sidamanik. Setelah berhasil melakukan konsolidasi kekuatan, Tuan Rondahaim menyusun strategi perang. Pasukannya mulai menyerang markas-markas Belanda pada waktu-waktu tertentu. Dengan gerilya malam, pasukan Tuan Rondahaim muncul tiba-tiba di hadapan pasukan Belanda. Pasukannya juga melancarkan Perang Raya pada 1887 dengan membakar dan memusnahkan gudang-gudang perkebunan Belanda. Pertempurannya melawan upaya aneksasi Belanda terhadap wilayah kekuasaannya, antara lain terjadi pada 21 Oktober 1887 di Dolok Merawan dan 12 Oktober 1889 di Bandar Padang. Tuan Rondahaim sangat ditakuti Belanda hingga mendapat julukan “Napoleon der Bataks,” yang berarti Napoleon-nya orang Batak.

Suatu ketika, Belanda mengajak Tuan Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Tuan Rondahaim mencurigai ajakan tersebut. Lalu, ia mengumpulkan pasukannya dan memilih orang yang paling mirip dengannya. Orang itu juga dipakaikan baju raja. Sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.

Akhir Hidup

Pada tahun 1887, pasukan kolonial Belanda berhasil memukul mundur pasukan Partuanan Raya. Sejak serangan ke Bajalinggei pada bulan Februari 1888, tidak ada lagi konflik terbuka antara pasukan kolonial Belanda dengan pasukan Tuan Rondahaim. Selain itu, Tuan Rondahaim juga menghadapi pemberontakan internal di wilayah kekuasaannya. Ada dua orang bangsawan yang menduduki beberapa kampung di wilayah kekuasaannya dan melakukan kontak dengan Belanda. Kesehatan Tuan Rondahaim pun berangsur-angsur memburuk. Sekujur tubuhnya membengkak dan tidak dapat diobati oleh satu pun tabib di Raya. Pada Juli 1891, Tuan Rondahaim meninggal dunia di Rumah Bolon Raya. Menurut catatan Jaulung Wismar Saragih, kematian Tuan Rondahaim diratapi oleh semua orang di Raya.

Sampai akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tidak pernah ditangkap dan tidak pernah menyerah pada kekuasaan Belanda. Namun, setelah Tuan Rondahaim meninggal, tidak ada lagi perlawanan besar dari Simalungun. Raja-raja lokal di Simalungun akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda, menjadi bagian dari birokrasi kolonial, dan menerima uang konsesi dari hasil perkebunan yang digarap perusahaan Belanda.(Adv / Susan / Dari berbagai sumber)

Follow WhatsApp Channel nawasenanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Musim Hujan dan Arus Mudik, Polres Simalungun Imbau Pengendara Tingkatkan Kewaspadaan Demi Keselamatan
Polres Simalungun Limpahkan Tersangka Korupsi Dana Desa Rp533 Juta ke Kejari
Kurang dari 3 Jam, Polsek Bangun Tangkap Pelaku Pembacokan Pelajar 17 Tahun di Simalungun
Bulan Ramadhan Penuh Berkah, TP PKK dan DWP Kabupaten Simalungun Berbagi Sembako
Kapolres Simalungun Cek Pos Pengamanan Operasi Ketupat Toba 2026, Pastikan Mudik Lebaran Aman
Bupati Simalungun Temui Mentan Andi Amran, Daerah Dapat Bantuan Bibit untuk 22 Ribu Hektare dan Cetak Sawah Baru
Pemkab Simalungun Bahas 10 Proyek Strategis 2026, Tambahan Dana TKD Rp412,93 Miliar
Kapolres Simalungun Pimpin Apel Gelar Pasukan Ops Ketupat Toba 2026, 161.243 Personel Siap Amankan Mudik Idulfitri
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:22 WIB

Musim Hujan dan Arus Mudik, Polres Simalungun Imbau Pengendara Tingkatkan Kewaspadaan Demi Keselamatan

Selasa, 17 Maret 2026 - 23:27 WIB

Polres Simalungun Limpahkan Tersangka Korupsi Dana Desa Rp533 Juta ke Kejari

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:20 WIB

Kurang dari 3 Jam, Polsek Bangun Tangkap Pelaku Pembacokan Pelajar 17 Tahun di Simalungun

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:12 WIB

Bulan Ramadhan Penuh Berkah, TP PKK dan DWP Kabupaten Simalungun Berbagi Sembako

Jumat, 13 Maret 2026 - 20:59 WIB

Kapolres Simalungun Cek Pos Pengamanan Operasi Ketupat Toba 2026, Pastikan Mudik Lebaran Aman

Berita Terbaru